Di tengah tantangan menjaga ketahanan pangan keluarga, sebuah kolaborasi menarik lahir di Desa Kajaolaliddong, Kecamatan Barebbo, Kabupaten Bone. Bukan sekadar membagikan bibit, mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) menghadirkan model pemberdayaan yang menghubungkan inovasi, kolaborasi, dan keberlanjutan. Inovasi tersebut berupa pemanfaatan pupuk kompos hasil olahan limbah untuk menghidupkan kembali Program Pekarangan Pangan Lestari (P2L).
Inisiatif tersebut diwujudkan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa Keilmuan dan Penalaran Ilmiah (UKM KPI) Unhas melalui program Desa Berkarya. KPI berkolaborasi dengan Tim Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) UKM KPI Unhas lewat program Mannennungeng: Smart Hydro Loop.
Sinergi kedua program itu diwujudkan dalam penanaman 1.300 bibit cabai, tomat, dan terong di lahan Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek, Selasa (14/7).
Sebanyak seribu bibit merupakan dukungan dari Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone, sedangkan 300 bibit lainnya berasal dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Bone. Yang membedakan kegiatan ini dari penanaman pada umumnya adalah seluruh bibit ditanam menggunakan pupuk kompos hasil pengolahan limbah pertanian dan peternakan yang dikembangkan melalui program Mannennungeng.
Pupuk kompos yang dimanfaatkan merupakan hasil pelatihan dan pendampingan kepada masyarakat dalam mengolah limbah organik.
Pendekatan tersebut menghadirkan siklus pemberdayaan yang saling terhubung. Limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan diolah menjadi pupuk organik, kemudian digunakan untuk meningkatkan produktivitas pekarangan masyarakat. Dengan demikian, program tidak berhenti pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun sistem yang mendorong masyarakat mampu memproduksi sarana pertanian secara mandiri.
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Kabupaten Bone, Nurdin, S.P., M.Si., menilai kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat merupakan langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan keluarga. Menurutnya, dukungan bibit yang diberikan diharapkan mampu meningkatkan produktivitas pekarangan sekaligus menunjukkan bahwa inovasi mahasiswa dapat diterapkan secara langsung di tengah masyarakat. Model pemberdayaan seperti ini pun diharapkan dapat diperluas ke desa-desa lain sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak kelompok masyarakat.
Bagi Universitas Hasanuddin, kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata implementasi pembelajaran di luar ruang kelas. Kepala Subdirektorat Kelembagaan Mahasiswa Direktorat Kemahasiswaan Unhas, Muhammad Irdam Ferdiansah, S.E., M.Acc., Ph.D., Ak., CA., mengatakan mahasiswa tidak hanya menerapkan ilmu yang dipelajari, tetapi juga membangun solusi bersama masyarakat dan pemerintah daerah.
Menurutnya, integrasi antara Desa Berkarya dan Mannennungeng memperlihatkan bagaimana program kemahasiswaan mampu menciptakan dampak yang berkelanjutan sekaligus menjadi ruang belajar mengenai ketahanan pangan, kearifan lokal, dan pemberdayaan masyarakat.
Adapun bibit yang telah ditanam diharapkan dapat tumbuh optimal dan menjadi awal kebangkitan kembali Program Pekarangan Pangan Lestari di KWT Anggrek.
Ketua Umum UKM KPI Unhas, Aydil Fitra Mulya, menambahkan bahwa kolaborasi antar tim dalam satu desa binaan menjadi model yang akan terus dikembangkan. Dengan menghubungkan inovasi teknologi sederhana, pemberdayaan masyarakat, dan dukungan pemerintah daerah, mahasiswa tidak hanya menghasilkan program yang berdiri sendiri, tetapi membangun ekosistem yang saling menguatkan.
Melalui kolaborasi tersebut, Desa Kajaolaliddong tidak hanya menerima ribuan bibit hortikultura. Desa ini juga menjadi contoh bagaimana inovasi mahasiswa, dukungan pemerintah, dan partisipasi masyarakat dapat dipadukan dalam satu model pemberdayaan yang berorientasi pada keberlanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dari pekarangan rumah.