Loading...

Tak Hanya Siap Kerja, Mahasiswa Perlu Paham Jaminan Sosial

Posted By
ILHO
Kategori
PENGUMUMAN
Date
09-09-2026

Memasuki dunia kerja tidak cukup hanya dengan memiliki kompetensi akademik dan keterampilan profesional. Generasi muda juga perlu memahami berbagai risiko yang dapat muncul dalam kehidupan dan pekerjaan, termasuk pentingnya perlindungan melalui jaminan sosial.

Hal tersebut menjadi perhatian dalam kuliah umum bertema “Generasi Muda dan Jaminan Sosial: Bekal Menuju Dunia Kerja yang Sehat, Aman, dan Terjamin” yang digelar Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan di Arsjad Rasjid Lecture Theater Unhas, Rabu (9/9/2026).

Kuliah umum menghadirkan Dr. Agus Taufiqurrohman, M.Kes., Sp.S., Anggota Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) periode 2024–2029; Apt. Andi Rismaniswati Syaiful, S.Si., M.Kes., AAK., Asisten Deputi Bidang Jaminan Pelayanan Kesehatan Kedeputian Wilayah IX BPJS Kesehatan; serta dr. Suci Rahmad, M.Kes., CDMP., CRMP., Kepala Kantor Wilayah Sulawesi Maluku BPJS Ketenagakerjaan.

Dalam paparannya bertajuk “Dari Kampus ke Dunia Kerja, Mengapa Generasi Muda Perlu Memahami Jaminan Sosial”, Agus menjelaskan pentingnya mengenalkan jaminan sosial sejak di bangku perguruan tinggi. Mahasiswa perlu mengetahui konsep, manfaat, serta berbagai bentuk perlindungan yang tersedia dalam sistem jaminan sosial nasional.

Ia menjelaskan, DJSN memiliki tugas, fungsi, dan kewenangan dalam penyelenggaraan sistem jaminan sosial nasional. Dalam sistem tersebut terdapat enam program jaminan sosial, yakni Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, Jaminan Kematian, dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan.

“Untuk jaminan kesehatan, seluruh penduduk Indonesia harusnya masuk. Termasuk penerima bantuan iuran untuk masyarakat miskin dan rentan,” ujar Agus.

Menurut Agus, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam memperkenalkan jaminan sosial kepada generasi muda. Ia menyebut implementasinya telah dilakukan di sejumlah perguruan tinggi, termasuk Unhas yang telah menandatangani nota kesepahaman dengan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

“Unhas sudah menandatangani MoU dengan BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Ini menjadi langkah awal yang baik. Selanjutnya, bagaimana kerja sama ini bisa diimplementasikan dalam bentuk penguatan literasi jaminan sosial secara berkelanjutan dan memberikan dampak bagi mahasiswa,” kata Agus.

Ia berharap mahasiswa tidak hanya memahami program jaminan sosial, tetapi juga mampu membagikan pengetahuan tersebut kepada lingkungan sekitarnya.

“Mahasiswa kita harapkan menjadi brand ambassador jaminan sosial. Mereka bisa menyampaikan apa yang sudah dipahami kepada teman-temannya, keluarganya, dan masyarakat,” ujarnya.

Agus juga menekankan bahwa sistem jaminan sosial Indonesia dibangun dengan prinsip gotong royong. Pemahaman sejak di bangku kuliah menjadi bekal penting agar generasi muda mengenali hak dan perlindungan yang mereka miliki sebelum memasuki dunia kerja.

Dari sisi Unhas, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp.Ortognat.D., menegaskan keterbukaan Unhas untuk memperluas kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar mahasiswa memperoleh pengalaman dan akses yang lebih dekat dengan dunia kerja.

“Unhas membuka diri untuk bekerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri. Kami ingin bermitra dengan banyak pihak agar mahasiswa kami bisa lebih cepat mendekatkan diri dengan dunia kerja,” katanya.

Prof. Ruslin juga menekankan pentingnya memastikan mahasiswa memperoleh perlindungan kesehatan selama menjalani pendidikan. Ia berharap seluruh mahasiswa Unhas dapat tercakup dalam jaminan kesehatan.

“Harapan kami, semua mahasiswa di Unhas ter-cover jaminan kesehatannya,” ujarnya.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Unhas telah menyediakan klinik kesehatan bagi mahasiswa. Selain itu, Unhas juga berencana membangun klinik di Fakultas Teknik Gowa sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan di lingkungan kampus.

“Di Unhas ada klinik kesehatan untuk memfasilitasi mahasiswa. Kami juga akan membuat klinik di Fakultas Teknik Gowa. Layanan kesehatan adalah hal yang primer,” tutur Prof. Ruslin.

Prof. Ruslin turut menyampaikan apresiasi kepada para narasumber yang hadir dan berharap kegiatan tersebut dapat memperluas wawasan mahasiswa mengenai jaminan sosial.

Kegiatan yang diikuti sekitar 169 mahasiswa tersebut berlangsung interaktif. Peserta aktif menyampaikan pertanyaan dan berdiskusi dengan para narasumber, menunjukkan ketertarikan mahasiswa terhadap isu perlindungan sosial yang akan mereka hadapi, baik saat memasuki dunia kerja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui kegiatan ini, kesiapan memasuki dunia kerja dipahami secara lebih luas. Selain kompetensi, generasi muda perlu memiliki pengetahuan mengenai risiko dan perlindungan sosial sebagai bagian dari bekal menghadapi kehidupan profesional. (*rmd)